Padahal belum kuijinkan
angin masuk menyeringai tawa
Padahal belum sempat kukatan “ya”
tapi dirimu telah tiada
Melihat punggungmu seraya pergi
menghalau burung mungil
tanpa menatap kembali
kau susur jalan itu
aku tak menolak pemberianmu itu
tapi aku tak katakan “tidak” untuk yang lain
bukan maksudku serakah, bukan
tapi jika kau tak sanggup
kau bisa pergi sekarang
semakin menjauh
EKG pun terngiang
Ah, lagi-lagi aku melihat Cheey terduduk disana, membaca puisi. Sudah gila benar rupanya. Orang macam aku saja tidak diajaknya bicara, kenapa pohon itu diajaknya pula berbincang. Ku duduk di sampingnya, sambil sesekali memperhatikan pandangannya yang kosong. Menepuk-nepuk seragam putih pasien yang sudah kumel ini. Tak lupa masih bergumam dalam hati “kapan aku keluar dari tempat ini?”. Tak juga digubrisnya aku. Lancang aku bicara “KAU SUDAH GILA YA?!” kulihat dia tersentak. Kulanjutkan perkataanku “kau harus bisa menerima kepergiannya dari sekarang!!kalau kau berlarut-larut, kau akan makin terluka, menatap kenyataan bahwa dia telah tiada!!lebih baik sakit sedikit sekarang atau perih amat sangat esok??” dia menengok ke arahku. Tangannya menggenggam penuh kesal. Aku tau, yang kulakukan itu salah. “KAU TIDAK TAHU!!BUKA MATAMU LEBAR-LEBAR!!dia masih ada disini. Dia masih punya janji padaku. Dia berjanji padaku. Dan aku berjanji padanya. Kita akan bertemu di gedung putih sana!bukan gubuk kumuh macam ini!” hentaknya seraya pergi. “Bodoh, harusnya tak usahlah berjanji toh tak ada yang tau esok apa kan terjadi. Setidaknya dia benar, tempat ini terlalu reot untuk kami” batinku. Kulihat sesosok putih itu pergi, gadis bergelimang perban, cepatlah sembuh SAHABAT. Aku sudah tidak kuat menemani dan menjagamu disini. Bisa-bisa aku terkena virus tidak kewarasan yang sering kutemui di setiap sudut RS ini T.T
suka atau tidak suka, tanpa kau ijinkan pula, kini itu jadi urusanku
Langit pun meronabulan menjangkarmelengkungkan dirinyahingga ke sudut paling sempitnya
Aku iri..mereka bisa menemukanmudi tengah kerumunan itusedangkan aku, tidak
Aku iri..mereka bisa melihat tawamusedangkan aku, tidakhanya seonggok tanah yang kulihat
Aku iri..mereka bisa berkumpul dan bertukar cerita padamusedangkan aku, tidakhanya bisa melihat kau bahagia tanpaku
Aku iri..mereka yang sering bercerita padakukini mulai menghilang dan enyahkarena daya tarikmu menarik mereka
Aku iri..tidak bisa melindungimu..hanya bisa berdiri sendiri..dan selalu mendoakanmu :)
Aku iri..kapan air mataku akan turun sebagai tanda aku bahagia melihat dia bahagia??kapan aku akan merelakan kepergiannya?bagiku masa lalu tak perlu diungkitmasalalu bahagia hanya seperti mengiming-imingi kita dalam kebahagian semudan masalalu sedih hanya seperti menyambar luka saja
“wah, langit telah meranum. Sepertinya aku harus pulang dulu, Sahabat” ungkap Cheey sambil mengelus bongkahan tanah di depannya. “Kering sekali, aku menunggu hujan bulan juni ini” tawanya merekah. Menipu sejuta orang yang melihat senyumnya.


